Mengapa mixed methods berkembang kuat di Amerika? Apa kaitannya dengan pragmatisme Amerika dan perdebatan positivisme di Jerman?
Mengapa behaviorisme berkembang kuat di Amerika, sementara psikoanalisis lahir di Wina? Mengapa suatu gagasan tumbuh subur di satu masyarakat, tetapi kurang mendapat tempat di masyarakat lain?
Belajar di Amerika memperluas wawasan kita tentang berbagai teori dan penelitian. Kita juga mengenal berbagai cara memahami persoalan pendidikan dan masyarakat. Saat ingin menghubungkan ilmu itu dengan persoalan di Indonesia, mungkin kita perlu melihat lebih jauh dari isi teorinya. Gagasan apa tentang manusia, masyarakat, pengetahuan, atau pendidikan yang mendasari teori tersebut?
Sebagian teori masa kini berkembang dari tradisi pemikiran yang lebih lama, termasuk filsafat Amerika. Pengaruhnya tidak selalu langsung. Tentu, tidak semua teori yang kita pelajari berasal dari para filsuf Amerika. Namun, mengenal beberapa gagasan klasik bisa membantu kita memahami latar berkembangnya teori dan perdebatan itu.
Menelusuri akar pemikiran tidak berarti kita harus menjadi ahli filsafat sebelum membaca atau menggunakan teori. Ini merupakan cara untuk membaca dengan lebih sadar. Kita bisa memahami asumsi di balik suatu gagasan, masalah yang ingin dijawabnya, dan batas penerapannya. Dengan bekal itu, kita bisa menilai apakah gagasan tersebut cocok untuk menjelaskan persoalan di Indonesia atau perlu disesuaikan. Bisa juga persoalan di Indonesia justru membutuhkan pertanyaan yang berbeda.
Melalui bedah buku ini, Wiwit Kurniawan mengajak peserta mengobrol tentang tradisi pemikiran Amerika dan relevansinya bagi penelitian PhD. Apakah mengenal tradisi tersebut membantu kita memahami teori yang dipelajari? Saat menghubungkan teori itu dengan Indonesia, apa yang perlu kita pahami tentang latar belakangnya?